Sport Motorcycles Motorcycle Modif Motorcycle News Beauty Motorcycles Sexy Motorcycle
Next motorcycles Racer Motorcycle Latest Motorcycle Old Motorcycles Sexy Bikers
Super motorcycles Motorcycle Performance Max Bikers Rallies Motorcycles Motorcycle Hot Girl
Showing posts with label Borobudur. Show all posts
Showing posts with label Borobudur. Show all posts

Monday, May 23, 2011

Jejak Astronomis di Borobudur

Jejak Astronomis di Borobudur
Kamis, 19 Mei 2011 | 03:12 WIB
M Zaid Wahyudi


Penelitian selama 2,5 tahun yang dilakukan Tim Arkeoastronomi Borobudur, Institut Teknologi Bandung, menunjukkan, stupa utama candi Buddha terbesar di dunia itu berfungsi sebagai gnomon (alat penanda waktu) yang memanfaatkan bayangan sinar Matahari. Stupa utama yang merupakan stupa terbesar terletak di pusat candi di tingkat 10 (tertinggi).Kemegahan Candi Borobudur tidak hanya menunjukkan kemampuan rancang bangun nenek moyang bangsa Indonesia yang mengagumkan. Penempatan stupa terawang maupun relief di dinding Borobudur ternyata menunjukkan penguasaan mereka terhadap ilmu perbintangan alias astronomi.

Stupa utama dikelilingi 72 stupa terawang yang membentuk lintasan lingkaran di tingkat 7, 8, dan 9. Bentuk dasar ketiga tingkat itu plus tingkat 10 adalah lingkaran, bukan persegi empat sama sisi seperti bentuk dasar pada tingkat 1 hingga tingkat 6.

Jumlah stupa terawang pada tingkat 7, 8 dan 9 secara berurutan adalah 32 stupa, 24 stupa, dan 16 stupa. Jarak antarstupa diketahui tidak persis sama. Pengaturan jumlah dan jarak antarstupa diduga memiliki tujuan atau makna tertentu.

”Jatuhnya bayangan stupa utama pada puncak stupa terawang tertentu pada tingkatan tertentu menunjukkan awal musim atau mangsa tertentu sesuai Pránatamangsa (sistem perhitungan musim Jawa),” kata Ketua Tim Arkeoastronomi ITB Irma Indriana Hariawang di Jakarta, Rabu (18/5).

Tim beranggotakan satu dosen dan empat mahasiswa Astronomi ITB, satu mahasiswa Matematika ITB, dan seorang peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Temuan mereka dimuat dalam prosiding 7 International Conference on Oriental Astronomy di Tokyo, Jepang, pada September 2010.

Sebelum korelasi antara bayangan stupa utama dan stupa terawang diketahui, tim terlebih dahulu menentukan bayangan lurus stupa utama saat Matahari berada di garis khatulistiwa (garis 0 pada grafik lintasan awal musim). Pada saat itu Matahari terbit tepat di titik timur garis dan terbenam tepat di titik barat garis.

Hasil ini menunjukkan posisi Borobudur sesuai arah mata angin. Arah utara-selatan menunjuk posisi kutub utara Bumi dan kutub selatan Bumi, bukan utara-selatan kutub magnet Bumi. Posisi itu ditentukan tanpa bantuan alat penentu posisi global (GPS).

Dosen Astronomi ITB yang juga anggota Tim Arkeoastronomi Borobudur ITB, Ferry M Simatupang, mengatakan, sekitar tahun 800, saat Borobudur dibangun, nenek moyang bangsa Indonesia mampu menentukan arah utara-selatan benar menggunakan bayangan Matahari.

Cara paling sederhana menentukan arah utara-selatan benar adalah menandai bayangbayang gnomon pada lingkaran simetris. Jika bayang-bayang gnomon pada dua sisi lingkaran yang berseberangan dihubungkan, menunjukkan arah timur-barat benar. Garis yang tegak lurus dengan garis timur-barat benar adalah garis utara-selatan benar.

”Fakta bayangan stupa utama Borobudur sebagai penanda awal musim dalam Pránatamangsa baru temuan awal, masih banyak penelitian lanjutan yang harus dilakukan,” katanya.

Menurut Simatupang, tim akan meneliti hubungan bayangan stupa utama dengan stupa terawang dalam tiga dimensi. Hasil ini akan menajamkan garis awal musim yang sudah diperoleh dari citra dua dimensi. Saat ini citra tiga dimensi Borobudur sedang dikerjakan oleh pengelola Candi Borobudur.

Tim juga berencana melihat apakah posisi stupa atau bayangan stupa memiliki hubungan dengan prediksi gerhana Matahari atau gerhana Bulan. Konfigurasi situs megalitik umumnya memiliki kaitan dengan penentuan waktu, baik kalender maupun prediksi gerhana.

Selain itu, tim juga berencana mengetahui tahun tepat Borobudur didirikan berdasarkan struktur asli Borobudur. Struktur Borobudur saat ini merupakan hasil rekonstruksi beberapa kali yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda maupun Pemerintah Indonesia atas bantuan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (Unesco). Saat ditemukan tahun 1800 oleh tim yang dipimpin Sir Thomas Stamford Raffles dari Inggris, Borobudur hanya berupa puingpuing.

Namun, penelitian ini tidak mudah. Penelitian arkaeoastronomi masih baru di Indonesia. Aspek astronomis dalam candi Buddha juga jarang ditemukan.

Ahli dan literatur yang ada pun terbatas. Kerja sama antara astronom dan arkeolog perlu dilakukan untuk lebih memperlancar penelitian.

Pengetahuan astronomi

Sejumlah relief di Candi Borobudur juga menunjukkan kemampuan nenek moyang bangsa Indonesia dalam penguasaan ilmu perbintangan. Hal itu, menurut Irma, salah satunya ditunjukkan dengan gambar perahu-perahu pelaut berbagai ukuran di dinding candi.

Gambar perahu itu menunjukkan mereka adalah bangsa pelaut. Untuk mampu mengarungi lautan, dibutuhkan kemampuan navigasi (menentukan arah) yang panduan utamanya bintang-bintang di langit.

Salah satu bintang yang menjadi penunjuk arah adalah bintang Polaris, yaitu bintang yang terletak tepat di atas kutub utara Bumi hingga disebut sebagai Bintang Utara.

Polaris menjadi acuan arah utara bangsa-bangsa di belahan Bumi utara. Nama bintang ini banyak disebut dalam sejumlah manuskrip umat Buddha.

Sebelum tahun 800, Polaris dapat dilihat dari Nusantara di sekitar Borobudur. Bintang terang ini mudah diamati karena hanya bergerak di sekitar horizon (ufuk langit). Namun, sejak tahun 800 hingga kini, posisi Polaris semakin di bawah horizon akibat gerak presesi (gerak Bumi pada sumbunya sambil beredar mengelilingi Matahari) sehingga Bintang Utara tidak mungkin lagi dilihat dari Nusantara.

Karena Polaris tak bisa diamati, pelaut mencari bintang penanda utara lain, yaitu rasi Ursa Mayor (Beruang Besar). Jika dua bintang paling terang dalam rasi ini, yaitu Dubhe dan Merak, ditarik garis lurus, akan mengarah ke Polaris. Hal ini membuat Ursa Mayor menjadi penanda arah utara lain.

Pentingnya rasi Ursa Mayor bagi masyarakat saat itu ditunjukkan oleh gambar relief bulatan-bulatan kecil pada tingkat ke-4 Borobudur di sisi utara. Tujuh bulatan kecil itu diapit oleh lingkaran besar yang diduga Matahari dan bulan sa- bit yang dipastikan simbol bulan.

Dari Bumi, Ursa Mayor terlihat sebagai tujuh bintang terang. Nama Dubhe dan Merak berasal dari bahasa Arab. Dubhe dari frasa thahr al dubb al akbar (punggung beruang besar), sedangkan Merak dari kata al marakk yang artinya pinggang karena posisinya di pinggang beruang.

Irma menambahkan, selain Ursa Mayor, tujuh bulatan itu diduga sebagai Pleiades (tujuh bidadari). Masyarakat Jawa mengenal kluster bintang terbuka ini sebagai Lintang Kartika. Nama ini berasal dari bahasa Sansekerta krttikã yang menunjuk kluster bintang yang sama.

Kluster (kumpulan) bintang ini populer di Jawa karena kemunculannya menjadi penanda dimulainya waktu tanam.

Dugaan tujuh bulatan itu adalah Pleiades muncul karena hampir semua bangsa memiliki kesan mendalam dengan kluster bintang ini. Bangsa Jepang menyebutnya sebagai Subaru, sedangkan masyarakat Timur Tengah menamainya Thuraya.

Namun, jika diamati dari Borobudur, posisi Tujuh Bidadari ini di dekat arah timur benar saat terbit dan di dekat arah barat benar saat terbenam. Posisi kluster ini tidak cocok dengan letak tujuh bulatan di dinding utara Borobudur.

”Kecil kemungkinan tujuh bulatan itu adalah Pleiades, melainkan Ursa Mayor karena posisinya menghadap

Ursa Mayor yang menjadi penanda arah utara,” kata Irma.

http://nasional.kompas.com/read/2011/05/19/03121712/Jejak-Astronomis-di-Borobudur

Thursday, November 11, 2010

Ini Cara Enyahkan Abu Merapi di Borobudur

Ini Cara Enyahkan Abu Merapi di Borobudur
Pertama, abu jangan disiram dengan air, justru berdampak sebaliknya.
KAMIS, 11 NOVEMBER 2010, 14:39 WIB
Arfi Bambani Amri

VIVAnews - Abu vulkanik Gunung Merapi yang menempel di Candi Borobudur bersifat asam korosif sehingga membahayakan kondisi batu candi tersebut. Untuk menghilangkan kandungan asam di batu candi tersebut, pihak Balai Konservasi Peninggalan Borobudur melakukan pemberishan abu itu dengan menyemprotkan zat kimia natrium bikarbonat.

Berdasarkan pantauan di Candi Borobudur, hampir semua bangunan candi dan area sekitarnya tertutup abu vulkanik yang cukup tebal. Menurut Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Marsis Sutopo, ketebalan abu vulkanik yang menempel di Candi Borobudur cukup tebal mencapai 2,5 cm.

“Abu Merapi yang menempel kali ini merupakan yang paling tebal dibandingkan hujan abu sebelumnya. Saya juga tanya kepada pegawai balai ini yang sudah tua-tua dan mereka bilang abu saat ini yang paling tebal,” kata dia dihadapan wartawan, Kamis, 11 Nopember 2010.

Menurut dia, abu vulkanik tersebut mempunyai sifat korosif yang sangat merusak. Sifat merusak ini terlihat dari dari contoh pagar teralis candi yang belum lama dicat namun terkena hujan abu tersebut langsung berkarat.

“Dengan pertimbangaan seperti itu. Bagaimana kita menghilangkan sifat korosif yang menempel di batu. Kalau disemprot dengan air tidak bisa, nanti justru abu itu akan semakin masuk ke pori-pori batu. Oleh sebab itu, kita mencoba menggunakan zat kimia penetralisir sifat asam korosit itu yakni natrium bikarbonat,” ujarnya.

Direktur Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Yunus Satrio Atmaja, menambahkan, permukaan batu candi memiliki lubang-lubang kecil. Sehingga, jika hanya disemprot air saja, justru abu yang sangat lembut itu akan masuk. “Jika masuk, maka sifat abu yang korosif ini akan merusak batu candi tersebut,” kata dia.

Sehingga zat kimia natrium bikarbonat pun dibutuhkan untuk proses pembersihan sifat asam yang menempel pada abu Merapi ini. “Natrium bikarbonat adalah sejenis soda. Ini jika disemprotkan akan menetralisir asam korosit tersebut. Natrium bikarbonat juga mudah diperoleh di pasaran,” kata dia.

Untuk proses pembersihan tersebut, lanjut dia, pihaknya membawa berbagai macam peralatan dari Jakarta sebanyak satu truk. Alat-alat itu meliputi, generator, spray, cetok, masker dan kacamata. “Proses pembersihan ini membutuhkan waktu cukup lama, minimal satu Minggu. Total biaya untuk membeli peralatan mencapai Rp 100 juta,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Kelompok Kerja Pemeliharaan Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur, Nahar Cahyandaru, menyebutkan pemakaian zat kimia natrium bikarbonat telah melalui proses konsultasi dengan pihak dosen jurusan MIPA UGM Yogyakarta. Menurut dosen tersebut zat kimia tersebut lazim digunakan untuk proses konservasi loga, batu dan lainnya.

“Ketersediaan bahan kimia ini cukup banyak selain itu, juga tidak bahaya. Namun, setelah pemakaian zat kimia tersebut, apabila status Merapi sudah diturunkan dan tidak terjadi hujan abu vulkanik lagi, akan dilanjutkan dengan proses menyiram air sebanyak-banyaknya di semua bagian candi. Ini dilakukan untuk menghilangkan senyawa kimia tersebut,” ujar dia.

Selanjutnya, ia menerangkan, setelah proses penyemprotan zat natrium karbonat yang berkadar 1 persen rata di semua stupa yang berjumlah 72 buah tersebut. Proses berikut adalah menutupi bangunan candi tersebut dengan terpal plastik.

Laporan Fajar Sodiq | Magelang

• VIVAnews


Sunday, November 7, 2010

Hindari Debu, Borobudur Akan Diberi Selimut

Hindari Debu, Borobudur Akan Diberi Selimut
Debu Merapi mengandung sulfur (asam belerang) itu dapat membuat batuan candi lapuk.
MINGGU, 7 NOVEMBER 2010, 08:54 WIB
Nezar Patria
Abu vulkanik Gunung Merapi menyelimuti Candi Borobudur (VIVAnews/Heru Lesmana Syafei)

VIVAnews--Hujan debu vulkanik Merapi yang kian pekat di Magelang, Jawa Tengah, membuat pemerintah mempertimbangkan menyelimuti Candi Borobudur. Sebab, letusan Merapi belum bisa dipastikan kapan akan berakhir.

Demikian dikemukakan Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur
(BKPB), Marsis Sutopo, di Hotel Manohara, komplek Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Sabtu (6/11/2010). Marsis akan menentukan hal itu pekan depan, setelah berkoordinasi dengan berbagai pihak.

Dampak erupsi Gunung Merapi terhadap Candi Borobudur adalah candi itu terselimut oleh hujan abu vulkanik. Jika dibiarkan, abu yang mengandung sulfur (asam dari belerang) itu dapat membuat batuan candi lapuk. Ketebalan abu tersebut mencapai 2 cm.

Pada letusan 26 Oktober 2010, Tamam Wisata Candi Borobudur ditutup sampai 29 Oktober 2010, untuk dilakukan pembersihan. Hujan abu vulkanik kembali mengguyur pada Rabu (4/11/2010) subuh, dengan volume lebih besar, dan masih terus turun sampai kini.

Marsis mengakui, tidak ingin melakukan pembersihan secara sia-sia. Dia cemas, jika segera dibersihkan, ternyata abu vulkanik masih turun. Jarak puncak Merapi sampai Borobudur, dikatakannya, mencapai 40 km. Angin berperan membawa abu tersebut ke berbagai arah.

Untuk menyelimuti Borobudur dengan terpal, kata Marsis, diperlukan waktu ekstra. Sebab, tak ada satu lembar terpal yang cukup besar menyelubungi candi berukuran lantai 121 meter persegi, dan tinggi 35 meter itu. Perlu waktu untuk merangkai terpalnya.

Soal anggaran pembersihan, Marsis belum dapat memastikan nominal yang diperlukannya. Anggaran reguler yang disediakan, dalam APBN, BKPB dijatah Rp 1 miliar untuk tahun ini.

Namun, anggaran tersebut sudah jelas peruntukannya. Seperti, pembuatan papan petunjuk/larangan bagi pengunjung, pembenahan stupa induk, dan lain-lain. Bukan untuk kejadian diluar dugaan seperti hujan abu ini. “Kami rapatkan Senin (8 November 2010) ini dulu,” ucapnya.

Direktur TWCB, Pujo Suwarno, mengatakan, komplek TWCB ditutup sampai Minggu 7 November 2010. Namun, mengingat kondisi hujan abu masih terjadi, dia tidak dapat memastikan TWCB dapat dibuka secara menyeluruh pada hari Senin. “Ya itu kesimpulan sementara,” ujarnya

Kemungkinan, ucap Pujo, jika buka hari Senin 8 November 2010, pengunjung hanya dibatasi sampai zona satu, dan dilarang menaiki candi. Terkait tarif diturunkan atau tidak sebagai konsekwensi tidak boleh menaiki candi, Pujo minta agar menunggu pengumuman berikutnya pada hari candi dibuka.(np)

Laporan: Heru Lesmana Syafei | Magelang

Baca juga: Efek Kesehatan Letusan Merapi

• VIVAnews